Anda Kesulitan Menulis?

  • Bagikan

Anda pernah mendengar nama La Masia? Ya, itu akademi sepak bola kebanggan Barcelona yang telah melahirkan banyak pemain hebat macam Leonel Messi, Andreas Iniesta, Carles Puyol, Xavi Hernandes, Thiago Ancantara, Cesz Fabregas serta seabrek nama yang tak perlu saya sebutkan. Berbicara La Masia berarti berbicara tentang pembinaan usia muda, penumbuhan dan pengembangan bakat anak, kaderisasi tim serta investasi jangka panjang sebuah manajemen.

Oke, mari singkirkan dulu Barcelona yang masih sakit hati setelah babak belur delapan gol dari Bayern Munchen. Sekarang mari fokus membincang kaderisasi dan pembinaan pemain (baca:penulis) muda. Sejak tahun 1437 H, Badan Pers Pesantren menerbitkan media baru. Tidak tanggung-tanggung, media ini langsung ditangani oleh BPP Sendiri. Media berformat mading (majalah dinding, bukan majalah jeding) ini diberi nama Jurnalis Santri.

Tentu saja, BPP berharap dari mading ini lahirlah santri-santri jurnalis yang dapat melanjutkan kiprah seniornya di bidang tulis menulis. Pula, dengan harapan bakat jurnalistik yang terdapat dalam diri santri segera tumbuh dan berkembang. Ibarat La Masia, Jurnalis Santri adalah tempat jurnalis muda belajar setahap demi setahap. Tempat mereka dididik dan dibina untuk menjadi jurnalis profesional. Di sini mereka diajarkan kode etik serta etos kerja seorang jurnalis. Di tempat ini pulalah, bakat-bakat muda mengembangkan kemampuannya.

Selanjutnya, saat talenta-talenta muda itu telah unjuk kebolehan dan pamer skill kepenulisannya selama setahun di Jurnalis Santri maka BPP akan merekrut mereka untuk “bermain” di media-media yang lebih senior, seperti Himmah, Madinah, Koreksi dst. Saat di media yang makin besar inilah, banyak talenta muda berguguran. Penuh semangat di awal, tetapi padam di tengah jalan. Kasus ini banyak terjadi. Tiap tahun. Alasan umum yang acap kali dijumpai ia merasa kesulitan dalam melanjutkan olah pena yang sudah ia tekuni. Ternyata menulis itu sulit. Ternyata menekuni dunia tulis menulis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ternyata menulis secara continue itu susahnya minta ampun.

Perasaan semacam ini adalah ujian pertama seorang penulis. Bila dalam ujian perdana ini sudah tidak kuat dan memilih mundur maka merugilah ia serugi-ruginya. Sebaliknya, jika mau melawan dengan keras serta tidak mau menyerah dalam kesulitan yang ditimpanya, insyaallah ia akan keranjingan menulis. Hal yang perlu diperhatikan penulis pemula bahwa menulis itu mudah. Lebih mudah dari pada antre nasi di koperasi dan jauh lebih gampang dibanding menahan rasa rindu. Eh.

Lantas jika ditanya, apakah benar menulis itu mudah? Saya akan menjawabnya dengan menukil slogan mading Jurnalis Santri, “Ayo… menulis itu mudah”. Konon, slogan ini diberikan langsung oleh Mas d. Nawawie Sadoellah. Ya, beliau sendiri mengatakan menulis itu mudah, lalu apakah kita sebagai santrinya akan mengingkari? Di samping itu, slogan ini di mulai dengan kata “ayo” yang notabene adalah ajakan. Logikanya, Mas Dwy sudah mengulurkan tangannya, mengajak kita menulis, lantas apa kita tidak mau menerima uluran tangan beliau? Sangat mungkin kata “mudah” yang termaktub di slogan itu adalah doa. Beliau mendoakan kita dalam hal jurnalistik. Beliau mendoakan karir kepenulisan kita. Beliau meminta kepada Allah supaya memudahkan santri menjadi penulis.

Sampai di sini, saya tanya balik, yakin menulis itu sulit? Jika Anda masih merasa kesulitan menulis, tenang saja. Sebab sekarang Buatin Tugasku hadir menyediakan Layanan Joki Tugas yang siap menyelesaikan Tugas Sekolah dan Kuliah Anda dengan Cepat dan Murah. Salam literasi!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.