Apa Landasan Hukum Mahalul Qiyam? Sebuah Makalah dan Skripsi Kritis

Setiap bulan R.awal mayoritas umat islam menyelenggarakan maulid Nabi. bahkan berbagai adat yang mereka gunakan guna untuk memeriahkan acara maulid nabi, di sertai baca’an ad dibai atau simthu ad durar yang di dalamnya menceritakan tentang paras, perangai, rasululah saw. Yang sangat indah dan terpuji. Akan tetapi ketika sampai syi’iran ya nabi salam alaika serentak orang-orang yang mengikuti acara tersebut berdiri yang sebelumnya di beri aba-aba mahallul qiyam atau lihurmatin Nabi Muhammad. Berikut jawaban cerdas mengenai pertanyaan apa landasan hukum mahalul qiyam?

BAB I

PENDAHULUAN

kita tahu bahwa hadits adalah sumber kedua dalam bangunan hukum islam. Bisa di pastikan, al Qur’an akan terasa sulit di tafsirkan tanpa melibatkan hadits. Demikian pula sebaliknya. Hanya masalahnya keotentikan hadits berbanding jauh dengan al Qur’an,  hadits masih memerlukan penelitian melalui studi kritik, baik dari sudut sanad ataupun kualitas rawinya, sementara al Qur’an tidak memerlukan itu.

Termasuk hadits tentang “mahallul qiyam” yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari berikut:

قوموا الى سيدكم او خيركم

Artinya:

“Berdirilah karena tuan kalian atau orang yang berbuat baik pada kalian”.

Setiap bulan R.awal mayoritas umat islam menyelenggarakan maulid Nabi. bahkan berbagai adat yang mereka gunakan guna untuk memeriahkan acara maulid nabi, di sertai baca’an ad dibai atau simthu ad durar yang di dalamnya menceritakan tentang paras, perangai, rasululah saw. Yang sangat indah dan terpuji. Akan tetapi ketika sampai syi’iran ya nabi salam alaika serentak orang-orang yang mengikuti acara tersebut berdiri yang sebelumnya di beri aba-aba mahallul qiyam atau lihurmatin Nabi Muhammad.

Ini mengindikasikan bahwa kita harus menghormati beliau, sebagaimana yang telah di riwayatkan imam Bukhari di atas.

  • :

Berdasarkan permasalahan yang terdapat dalam latar belakang masalah di atas, dapat di tarik rumusan masalah sebagai  berikut:

  1. bagaimana keterhubungan antar para rawi pada sanad hadits di atas?
  2. bagaiman kualitas para rawi pada sanad di atas?
  3. bagaiman hukum hadits dan istilah-istilah dalam ilmu hadits melalui jalur riwayat Imam Bukhari di atas?

Maka akan kami bahas  di BAB II.

  • untuk mengetahui ketersambungan sanad antar para rawi di atas.
  • untuk mengetahui kualitas para rawi pada sanad di atas.
  • untuk mengetahui hukum dan istilah-istilah dalam ilmu hadits diatas.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.   Penulusuran hadits

    Setelah di telusuri dalam kitab mausuah al at athraf  hal 736 juz 5 hadits di atas tidak di riwayatkan Imam Bukhari saja, melainkan juga di riwayatkan oleh Imam Muslim. hanya saja penelitian ini di fokuskan pada riwayatkan Imam Bukhari.

     Di dalam kitab mausu’ah al athraf  mengarah pada kitab shahih Muslim. Akan tetapi ketika kami lacak  di kitab shahih Muslim sesuai petunjuk kitak mausu’ah al athraf hadits yang kami cari tidak terdata, maka dari itu kami alihkan pada kitab shahih Bukhari untuk mengetahui kebereda’an hadits tersebut.

   Setelah di tengok pada kitab shahih Bukhari riwayat Imam Bukhori ditemukan pada nomer hadits 6262 matan dan sanadnya sebagai berikut:

حدثنا ابو الوليد:حدثنا شعبة عن سعد بن ابراهيم عن ابى امامة بن سهل بن حنيف عن ابى سعيد الخذري:ان اهل قريظة نزلوا على حكم سعد.فارسل النبي صلى الله عليه و سلم اليه فجاء فقال (قوموا الى سيدكم او خيركم ) فقعد عند النبى صلى الله عليه وسلم. فقال هؤلاء نزلوا على حكمك.قال فانى احكم ان تقتل مقاتلتهم وتسبى ذراريهم.فقال (لقد حكمت بما حكم به الملك).        

   Artinya: Abul al-Walid berkata kepada saya, Syu’bah berkata kepada saya, di riwayatkan Sa’ad  bin Ibrahim, di riwayatkan Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, di riwayatkan Abu Sa’id al-Khuzdri. Bahwa penduduk ahlu quraizdah meminta Abu Sa’id datang, lalu rasulullah mengutusnya, ketika Abu Sa’id datang, rasulullah bersabda: (قومو الى سيدكم او خيركم)   kemudian Abu Sa’id duduk di samping rasulullah, dan rasulullah bersabda (mereka ingin kamu adili) lalu Abu Sa’id berkata: sesungguhnya aku di perintah untuk membunuh orang-orang yang membunuh mereka, rasulullah menjawab, engkau telah mengadili sebagaimana allah tetapkan.  

رسو ل الله

ابى سعيد الحذرى

ابى امامة بن سهل بن حنيف

سعد بن ابراهيم

شعبة

ابو الوليد

البخاري

  • .

Dalam riwayat Imam Bukhari pada hadits di atas di sebutkan sighat haddasana ke gurunya yang bernama Abu al-Walid sehingga terdapat indikasi pertemuan antar kedua rawi. terlebih lagi, dalam Tahzdib at Tahzdib juz: 11 hal: 33-34 Ibnu Hajar al-Asqolani bahwa Abu al-Walid di beri kode an, sebagai indikasi bahwa Abu al-Walid merupakan salah satu guru Imam Bukhari, begitu pula dengan Abu al Walid ke gurunya yang bernama Syu’bah bahwa sighat ada’ wa at tahammul mengunakan haddasana, juga ada indikasi pertemuan langsung antar kedua rawi, berbeda dengan Syu’bah yang meriwayatkan Hadits dari gurunya yang bernama Sa’ad bin Ibrahim.

Dengan menggunakan sighat an, meskipun sighat an masih ihtimal pertemuan antar kedua rawi, tapi sighat an lebih tinggi dari qola kualitasnya sebagaimana yang tertera dalam kamus Istilah Hadits Halaman: 233 dan juga melihat tahun lahirnya beliau. Ada indikasi bahwa beliau pernah berguru pada Sa’ad bin Ibrahim sebagaimana yang tertera dalam kitab al-A’lam Juz: 3 hal: 164. Dan juga kami menemukan dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib Juz: 4 Hal: 301 bahwa beliau merupakan salah satu murid Sa’ad bin Ibrahim.

Selanjutnya dengan rawi yang bernama Sa’ad bin Ibrahim. Beliau juga meriwayatkan Hadits dengan menggunakan sighat an. Beliau mempunyai guru yang bernama Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Meskipun Kami tidak menemukan data tahun lahir beliau, akan tetapi jika ditinjau dari tahun wafat gurunya dan meninjau makan at-Taalumnya,  ada indikasi bahwa Sa’ad bin Ibrahim pernah belajar pada Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Disebutkan dalam kitab Siyar a’lam an-nubala’ Juz: 5 Hal: 421, bahwa beliau dalam rihlah keilmuannya pernah singgah di Madinah tempat Abu umamah mengajar dan juga disebutkan dalam kitab tahdzib at-Tahdzib bahwa beliau adalah salah satu murid Abu Umamah (Juz: 3 Hal: 403).

Begitu juga dengan Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dalam Hadits di atas beliu juga menggunakan sighat an Pada gurunya yang bernama Said al-Khudri. mengenai tentang tahun wafat gurunya,dan jangka pada tahun kelahiran beliau sudah jelas, bahwa beliau menerima hadist dari gurunya secara langsung dan di perkuat di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib juz :1 hal:231 bahwa beliau perna berguru pada Abu Sa’id al Khudri, juga dalam kitab Siyar a’lam an-nubala’ juz:1 hal:326 bahwa Abu Umamah perna belajar di Madinah tempat Abu Sa’id mengajar.meskipun beliau lahir pada masa Rasulullah tapi beliau tidak perna mendengar sesuatu dari Rasulullah sebagaimana yang di kutib oleh Imam al-Baghawi dan Imam abu Hibban.

Abi Sa’id al Khudri beliau mempunyai guru Rasulullah SAW. Di Tahdzid at-Tahdzib juz:3 hal:417, dan beliau perna belajar kepada Rasulullah di Madinah, sebagaiman yang terpapar di kitab Siyar a’lam an-Nubala’ juz:3 hal:172. Dan beliau mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah secara Qouli. Beliau wafat pada tahun 73 H. (Al-A’lam juz:3 hal:87). Jadi sudah jelas meninjau tahun wafat, sighat ada’ wa at-Tahammul dan makan at-Ta’allum juga antara guru dan murid tidak di ragukan lagi karena beliau adalah salah satu sahabat Nabi SAW.

NoRawiAda’ wa at TahammulL/WGuruMakan at Ta’allumMuridstatus
1Abu Sa’id al Khudri 74RasulullahMadinahAbu Sa’id al KhudriIttishal
2Abu Umamah bin Sahl bin HunaifAn100Abu Sa’id al KhudriMadinahAbu Umamah bin Sahl bin HunaifIttishal
3Sa’ad bin IbrahimAn125Abu Umamah bin Sahl bin HunaifMadinahSa’ad bin IbrahimIttishal
4Syu’bahAn160Sa’ad bin IbrahimWasith, Bashrah, IraqSyu’bahIttishal
5Abu al WalidHaddasana288Syu’bahBashrahAbu al WalidIttishal
6al BukhoriHaddasana256Abu al WalidKhurusan, iraq, Mesir, Syamal BukhoriIttishal
  • .

Bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin al-Mughirah bin Bardazbah menurut sebgian pendapat Ibnu Ahnaf Al-Ja’fi Maulahum Abu Abdillah al-Bukhari. Muhammad ibnu Ismail berkata bahwa beliau lahir pada tahun 194 H dan wafat pada tahun 256 H. Juga senada dengan perkataan Muhammad ibnu Ismail dalam kitab al-A’lam juz:6 hal:34, tentang lahir dan tahun wafatnya beliau, guru Imam Bukhari sangat banyak selain abu al-Walid diantaranya Abdullah bin Musa Muhammad bin Abdillah al-Anshari, Affan dll.

mengenai Imam Bukhari Imam Ahmad ibnu Siyar al-Marwazi berkata husnul ma’rifah, husnul huffazd. Dan Maslamah berkata beliau mengumpulkan hadits sebanyak 1106.

Hisyam bin Abdul Malik al-Bahili Maulahum Abu al-Walid at-Tilasi al-Bhasri al-Hafizd al-Imam   al-Hujjah yang masyhur dengan pangiglan Abu al-Walid. Dalam kitab al-A’lam diterangkan bahwa beliau wafat pada tahun 227, al-Ijli berkata bahwa beliau tergolong Tsiqah ,juga menurut imam Abu Thalib A’n, Amad al-Muttaqin bahwa Abu al-Walid Syaikhul Islam dan merupakan salah satu

 Ulama Muhadditsin, di dalam kitab al A’alam juz:8 hal:87 menyebutkan bahwa beliau meriwayatkan hadits pada Imam Bukhari sebanyak 107 hadits.

Bernama lengkap Syu’bah al-Hajjah bin al-Warid al-Itqi al-Azdi’i Maulahum abu al-Basthom al-Wasithi Tsumma al-Bashri, Imam Ibnu Sa’id dan Imam Abu Bakar bin Manjawi, sepakat bahwa beliau wafat pada tahun 160 H. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah Ahsanu Hadisan, di antaranya Imam Yahya al-Qthn, Imam Abu Thalib. Imam Yazid  bin Zara’i berpendapat bahwa beliau Asdaqo an-Nas fil hadits. Imam al-Ijli menggolongkan bahwa beliau adalah Tsiqah, bahkan Imam Ibnu Mahdi berkata bahwa beliau mendengar dari at-Sauri bahwa Syu’bah termasuk Amirul mu’minin fil hadits merupakan salah satu gelar yang di sematkan kepada sebagian pemuka Imam Muhadditsin dari beberapa gelar kehormatan, gelar Amirul mu’minin fil hadits, adalah gelar tertinggi  yang hanya bisa di capai oleh orang-orang tertentu, oleh karena itu, rawi yang di gelar demikian oleh Naqid kualitasnya tidak di ragukan lagi.

Benama lengkap Sa’ad bin Abdir Rahman bin A’uf, az-Zuhri Abu Ishaq dan terkadang mempunyai sebutan Ibrahim ummuhu ummu Kultsum binti Sa’ad, beliau juga pernah menjabat sebagai Qodhi di Madinah dan di Wasith pada Khilafah Harun. Ulama berbeda pendapat tentang tahun wafatnya menurut Imam Abu Hanifa beliau wafat pada tahun 128, tapi menurut putranya (Ibrahim bin Sa’ad) beliau wafat pada tahun 125, menurut Imam Ya’qub bin Ibrahim beliau wafat pada tahun 127, banyak Ulama yang menyatakan bahwa beliau Tsiqah diantaranya  Imam ibnu Sa’ad, Sholeh bin Ahmad a’n Abihi Abdullah bin Syu’bah, Ibnu Mu’in, ad-Dauri, al-Ijli.

Masyhur dengan sebutan ABU UMAMAH BIN SAHL BIN HUNAIF AL-ANSHARI. ulama sepakat bahwa beliau wafat pada tahun 100 H. Beliau merupakan sahabat Anshar, dan beliau lahir pada masa Nabi atau dua tahun sebelum wafatnya Nabi, beliau tergolong Tsiqah sebagaimana  yang di katakan Imam Ibnu Sa’ad dan Abi Hatim yang beliau dengar dari ayahnya.

Yang bernama lengkap Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri al-Anshari al-Khuzruji. Beliau merupakan salah satu sahabat Rasulullah beliau tergolong Afqohu Haditsin as-Sahabah, sebagaimana yang di katakan Imam Hanzdolah bin Abi Sufyan. Imam Hanzdolah mengakatan  tidak ada sahabat yang paling Tsiqah dari pada Said al-Khudri. Mengenai tahun wafatnya Ulama’ berbeda pendapat, menurut Imam al-Waqidi  dan Ibnu Numair,

Dan juga Imam Bakir bahwa beliau wafat pada tahun 74, menurut Imam al-Askari beliau wafat pada tahun 75, sebagaimana ya di sampaikan Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib juz:3 hal: 417.

RawiJarahMujarrihTa’dilMuaddil
Abu sa’id al khudri  Afqohu ahdasi as sahabahHanzholah bin abi sufyan
Abu umamah bin Sahl bin hunaif  TsiqahIbnu sa’id abdillah bin syuaib
Sa’ad bin ibrahim  TsiqahIbnu sa’id
Syu’bah  Ahsanu hadisanAbu tholib a’n Syu’bah.
Abu al walid  TsiqahAbu thalib an Ahmad muttaqin
Al bukhori  TsiqahImam maslamah

Dari hadits penelitian di atas, dari sudut ketersambungan sanad antar para rawi di hukumi Ittisal, hal ini bisa di lihat dari sighat Ada’ wa at Tahammul menggunakan Haddasana hanya pada Imam Bukhori dan imam Abu  Al-Walid. Beda halnya dengan Imam Syu’bah, Sa’ad bin Ibrahim, Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif yang mengunakan ada’ wa at tahammul an. Setelah di telusuri  para rawi, semuanya berkualitas Tsiqah. Sebagaiman para Naqid tegaskan di atas ( Kritik Kualiatas Rawi) dengan demikian dari sudut hukum (Bi’tibar al-Hukmi) hadits melalui jalur ini di hukumi Shahih, kemudian dari sudut ketersambungan sanad bisa di katakan Marfu’ Qauli karena dari awal hingga ahkir, sanadnya sampai ke rasulullah.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan terkait dengan penelitian hadits sebagai berikut:

  1. Dari sudut ketersambungan sanad, hadits riwayat Imam Bukhari yang didapat dari Abu al-Walid, Syu’bah, Sa’ad bin Ibrahim, Abu Umamah, Sa’id al-Khudri, dihukumi Ittishal.
  2. Kualitas para rawi di atas Tsiqah semua.
  3. Dari sudut hukum hadits pada jalur Imam Bukhari di atas adalah Shahih, Marfu’, Muttasil, Musnad.

PUSTAKA

  • Az-Zarkasyi,Khairuddin. 1999, al-A’lam kamus tarajim al-Asyhuri ar-Rijal wa an-Nisa’ minal A’rab wal Musta’ribina wal Mustasyqirina. Beirut: Dar al-Fikr Ce-14.
  • Ibnu Hajar al-Asqolani, al-Imam al-Khafidz Ahmad bin Ali. 2002 al-Ishabah fî Tamyiz Shahabah. Beirut. Dar al-Kutub al-Ilmiah Ce-02.
  • Al-Mizzi, al-Imam al-Khafizd Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf bin Abdi Rahmad. 1999 Tuhfatul-Asyrâf bi Ma’rifatil-Athrâf. Beirut Dar: Al kutub Al Ilmiah ce-01
  • Ibnu Hajar al-Asqolani, Syihabuddin Ahmad bin Ali 1984, Tahdzîb at-Tahdzîb. Beirut, Dar Alimu at-Turos Ce-01.
  • Al-Mizzi, Abi al-Mahasin Syamsyuddin Muhammad bin Ali al-Hasani. 1994 Tahdzib al-Kamal. Beirut, Dar al-Fikr Ce-01.
  • Ibnu al-Mughirah, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim, 2002, Shahîh Bukhari, Bairut Dar al-Kutub al-Ilmiah, Ce-02.
  • Adz-Dzahabi, Imam Syamsuddin, Muhammad bin Ahmad bin Usman, 1990, Siyârul-A’lâm an-Nubalâ’, Ce-07.
  • Az-Za’lawi, Abu Hajir, Muhammad as-Said, Basyuni, 1989, Mausu’ah al-Atrâf, al-Hadits an-Nabawi, Beirut, Dar al-Fikr, Ce-01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *