Biar Kamu Bisa Menulis Seperti Saya

  • Bagikan

Menulis memiliki beberapa pengertian, yang paling sederhana menulis adalah menggoreskan alat tulis (baik pena atau pensil) di atas kertas, arti yang lain, menulis adalah membuat suatu catatan untuk merekam sesuatu yang dianggap penting, sedangkan arti yang lebih mendalam adalah menuangkan buah pikiran pada sebuah tulisan, atau menceritakan apa yang ada di pikiran lewat sebuah tulisan. Menulis juga bisa diartikan sebuah ekspresi pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh salah satu budayawan prancis yang bernama Roland barthes (1915-1980), ia mengatakan  “mengekspresikan sesuatu yang tak bisa diekspresikan”.

Berikut kami paparkan beberapa modal untuk menulis:

Menguasai bahasa dan tata cara penulisannya

Sudah menjadi tren saat ini bahwa bahasa merupakn sebuah komponen penting dalam sebuah karya tulis, karya tersebut tidak aka nada jika tidak ada bahasa. Dalam menulis kita tak hanya menggoreskan huruf demi huruf di atas kertas. Ketika kita menulis berarti kita menulis bahasa, dengan kata lain, menulis adalah menciptakan seni bahasa.

Dalam pembuatan karya tulis, salah satu huruf yang di gunakan ialah huruf latin yang merupakan huruf internasional, termasuk karakter huruf cina yang sekarang diterjemahkan dengan huruf latin menjadi pinyin. Maka dengan demikian jika kita menginginkan karya tersebut dapat dipaham orang-orang asing, selain dituntut untuk mengguna huruf latin kita juga dituntut untuk menggunakan bahasa asing juga semisal bahasa inggris.

Kaya akan kosa kata

Di dalam tulisan kita di tuntut untuk membuat para pembacanya paham terhadap apa yang kita tulis. Caranya kita harus memperkaya perbendaharaan kosa kata. Untuk memperoleh hal itu, kita di aanjurkan untuk memperbanyak latihan dengan cara, membuka kamus utuk mencari kekuatan kata.

Diantara contoh yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut:

Himpun beberapa kata yang mengandung makna mengekspresikan.1) cinta, 2) kebencian, 3) kedamaian, 4) pujian, 5) aklamasi, 6) hardikan, 7) rayuan/bujukan, 8) ancaman, 9) kerinduan, 10) keresahan, 11) harapan dan lain-lain

Memiliki akar dan wawasan

Dalam karya fiksi kita di tuntut untuk memiliki wawasan dan akar pemikiran yang imajinatif. Meskipn dalam pembuatan karya-karya fiksi harus menggunakan imajinasi, bukan berarti dalam karya-karya fiksi hanya tergantun pada hayalan saja, akan tetapi dalam cerita fiksi ada dukungan fakta tapi di fiksikan.

Memompa dan mengolah daya imajinasi

Berimajinasi bagi seorang pengarang adalah sebuah keharusan. Modal utama dalam menulis itu harus punya imajinasi, pengarang jika tidak memliki imajinasi maka pengarang tersebut akan mandul dan tidak akan bisa untuk mengarang.

Berikut adalah beberapa cara agar imajinasi kita meningkat:

  • Banyak membaca buku-buku yang memacu terhadap imajinasi;
  • Menyendiri di tempat yang sepi untuk menghayal-hayal;
  • Mendekatkan diri denan alam sekitar untuk bermetafora (semisal, menjadi burung, daun, sungai, dan lain sebagainya);
  • Memiliki alat tulis yang unik. Memiliki stationery yang lucu dan unik, seperti white gel ink pen yang ditorehkan di atas black paper notebook terkadang dapat dengan sendirinya memunculkan inspirasi dan kreatifitas.
  • Mengolah perasaan: semisal, sedih, benci, suka, muak, terkagum-kagum, kecewa, tergila-gila, dan seterusnya.
  • Konsentrasi

Ada beberapa cara dalam melakukan konsentrasi antara lain, dengan melakukan kontenplasi dan meditasi. Untuk bisa berkonsentrasi seorang pengarang harus berani untuk mnyendiri pada waktu-waktu tertentu. Hal ini menjadi  sesuatu yang paling penting bagi pengarang dalam menghasilkan karya-karyanya. Karena dalam proses untuk menghasilkan sebuah karya bagi pengarang, ia harus bekerja dalam kesendiriannya. Namun menyndiri dalam hal ini bukan dengan cara memutus kontak dengan orang lain. Menyendiri dalam hal ini ialah, dimana seorang pengarang berada di sebuah dunia yang mana dapat dengan bebas ia menuangkan buah pikirnya dalam sebuah karya. Dengan begitu saja sudah dapat berkreasi.

Disiplin 

Bagi seorang pengarang ia di tuntut untuk melewati titian yang tak boleh ia langgar, yakni disiplin. Yang menjadikan seorang pengarang tidak disiplin adalah sifat malas dan sifat menyia-nyiakan waktu. Pertama-tama untuk mengatasi hal tersebut kita harus menaklukan diri sendiri untuk tidak malas. Selain itu sebaiknya bagi seorang pengarang ia harus melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Menentukan jadwal menulis (jam-jam tertentu setiap hari untuk mengasah keterampilan menulis dan berkarya yang sesungguhnya);
  2. Menyediakan tempat khusus untuk menulis agar bekerja secara optimal;
  3. Menyediakan sarana untuk menulis (alat tulis, kamus bahasa/kamus istilah, buku untuk dijadikan referensi, dan lain-lain);
  4. Membuat jadwal membaca (jam-jam tertentu disetiap harinya untuk menambah wawasan);
  5. Berdiskusi dan mengasah kemampuan daya pikir, imajinasi dan kepekaan; dan
  6. Mengevaluasi hasil karya yang telah diciptakan.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *