Contoh Makalah yang Benar: Hadits Tentang Mencela Orang Lain

Banyak dari para pengguna media sosial yang menyalahgunakan melalui chatting yang sarat akan kebohongan, postingan yang kental dengan unsur pamer, bahkan oleh sebagian golongan –yang lebih kita kenal dengan sebutan netizen– sampai menjadikan media sosial sebagai ajang saling mencela, mengumpat, dan menuduh tanpa dasar. Hal ini mereka lakukan hanya untuk mendapatkan kesenangan jangka pendek, tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan, yaitu permusuhan yang berkepanjangan, terlebih lagi bila yang mereka cela itu sesama muslim yang nantinya akan berdampak pada perpecahan umat Islam. Berikut Contoh Makalah yang Benar dengan tema Hadits Tentang Mencela Orang Lain.

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Kemajuan teknologi saat ini banyak dirasakan oleh pelbagai kalangan dan lapisan masyarakat, seakan telah menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam segi komunikasi kita dimudahkan dengan hadirnya gadget atau smartphone yang dilengkapi dengan pelbagai fitur aplikasi media sosial, mulai dari facebook, twitter, hingga yang terbaru saat ini whats app dan instagram.

Namun terlepas dari itu semua, banyak dari para pengguna media sosial yang menyalahgunakannya, seperti melalui chatting yang sarat akan kebohongan, postingan yang kental dengan unsur pamer, bahkan oleh sebagian golongan –yang lebih kita kenal dengan sebutan netizen– sampai menjadikan media sosial sebagai ajang saling mencela, mengumpat, dan menuduh tanpa dasar. Hal ini mereka lakukan hanya untuk mendapatkan kesenangan jangka pendek, tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan, yaitu permusuhan yang berkepanjangan, terlebih lagi bila yang mereka cela itu sesama muslim yang nantinya akan berdampak pada perpecahan umat Islam.

Lantas bagaimana syariat Islam menyikapi orang yang mencela saudaranya sendiri sesama muslim, sebagaimana yang telah disinggung di dalam al-Quran surat al-Hujurat (49) ayat: 11, yang berbunyi:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا ِنسَآءٌ مِّنْ نِسَآءٍ عَسَى أَنْ يَّكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْألْقَابِ بِئْسَ الْإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإٍيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ (الحجرات: 11)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok), janganlah kalian mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Oleh karenanya, penulis tertarik untuk mengangkatnya menjadi tema dalam kajian makalah kali ini, mengingat dampak yang akan ditimbulkannya sangatlah besar, yakni perpecahan umat Islam.

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa saja ayat-ayat mengenai mencela dalam al-Quran?
  2. Apa saja hadis-hadis tentang mencela?
  3. Apa definisi mencela?
  4. Apa saja macam-macam mencela?
  5. Bagaimana hukum mencela sesama muslim?

C.    Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui ayat-ayat mengenai mencela dalam al-Quran.
  2. Mengetahui hadis-hadis tentang mencela.
  3. Mengetahui definisi mencela.
  4. Mengetahui macam-macam mencela.
  5. Mengetahui hukum mencela sesama muslim.

D.    Penjelasan Istilah

      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua disebutkan bahwa kata “hukum” memiliki empat pengertian sebagaimana berikut:

  1. Peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah, atau otoritas.
  2. Undang-undang, peraturan, dan sebagainya, untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat.
  3. Patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam, dsb) yang tertentu.
  4. Keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan hakim (di pengadilan); vonis.

Jika dikaitkan dengan judul yang ada, maka hukum yang dimaksud adalah hukum Islam, sesuai pengertian hukum Islam itu sendiri yaitu peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan kehidupan berdasarkan al-Quran dan Hadis; hukum syariat, sebagaimana penjelasan yang juga tertulis dalam KBBI edisi kedua, mengingat hukum yang penulis ulas pada kajian kali ini berdasarkan QS. Al-Hujurat (49):11 dan hadis-hadis yang berkaitan.

Sedangkan kata “mencela” dalam KBBI, hal. 178, memiliki arti: mengatakan bahwa ada celanya; mencacat;mengecam; mengkritik; menghina, yang keseluruhannya tersebut merupaka perilaku yang kurang baik, terlebih jika diekspresikan kepada sesama muslim, sebagaimana yang dikehendaki dalam judul makalah ini.

BAB II

PENGUMPULAN DATA

Dalam menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan mencela, penulis menemukannya melalui penggalan kata dari ayat utama dan juga melalui ayat yang maknanya senada, sebagaimana data yang ditemukan dalam kitab Mu’jma al-Mufahras fi al-Hadits dan Riyadh ash-Shalihin karya Syaikh Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf an-Nawawi.

Berikut datanya:

A.    Ayat Utama

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا ِنسَآءٌ مِّنْ نِسَآءٍ عَسَى أَنْ يَّكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْألْقَابِ بِئْسَ الْإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإٍيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ (الحجرات: 11)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok), janganlah kalian mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

B.     Ayat-ayat Tentang Mencela

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (التوبة: 58)

“Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-Taubah: 58)

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (التوبة: 79)

“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (الهمزة: 01)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 01)

C.    Hadis-hadis Tentang Mencela

عن إبن مسعود رضي الله عنهما: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذي, رواه الترمذي وقال: حديث حسن.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka menghina, suka mengutuk, suka melakukan perbuatan keji dan mengatakan perkataan kotor. (HR. At-Turmudzi. Beliau berkata: Hadis ini hasan)

عن إبن مسعود رضي الله عنهما: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سباب المسلم فسوق وقتاله كفر, متفق عليه.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Mencaci-maki orang Islam adalah perbuatan fusuq (menyimpang dari tuntunan agama), dan membunuh orang Islam itu adalah kufur. (Muttafaq ‘Alaih)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم, رواه مسلم.   

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah saw., bersabda: “Seseorang itu cukap dianggap jahat bila ia mengejek saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

BAB III

KEBAHASAAN TEKS AYAT

A.  Asbab an-Nuzul

Mengenai historisitas turunnya surah al-Hujurat, ayat: 11 di atas, terdapat tiga Asbab an-Nuzul sekaligus di dalamnya, sebagaimana keterangan dalam kitab Tafsir al-Munir karya Dr. Wahbah az-Zuhaili.

Berikut uraiannya:

  1. Adh-Dhahhak berkata: “Ayat (لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ) turun pada orang-orang yang beriman dari Bani Tamim yang telah menghina sahabat-sahabat Nabi saw., yang miskin, semisal ‘Ammar, Bilal, Salman, dll. Namun ada pendapat yang menyebutkan bahwa ayat tersebut turun pada ‘Ikrimah bin Abu Jahal yang mengadu kepada Nabi saw., lantaran orang Islam memanggilnya “Anak Fir’aun zaman sekarang”, padahal beliau sudah masuk Islam.
  2. Ayat (وَلَا ِنسَآءٌ مِّنْ نِسَآءٍ) diturunkan perihal Ummul-Mu’minin Sayyidah Shafiyyah binti Huyay – salah satu istri Nabi saw. –, yang dicela oleh istri-istri Nabi saw., yang lainnya dengan panggilan “Hai perempuan Yahudi anak orang-orang Yahudi!”, sebagaimana penjelasan dari Ibnu Abbas r.a. Adapula pendapat yang menjelaskan bahwa ayat tersebut turun lantaran istri-istri Nabi saw., menghina Ummu Salamah karena postur tubuhnya yang pendek.
  3. Ayat (وَلَا تَنَابَزُوا بِالْألْقَابِ) turun pada Bani Salamah saat Nabi saw., tiba di Madinah. Pada saat itu, setiap orang memiliki dua sampai tiga nama sekaligus. Dan ketika Nabi saw., memanggil dengan salah satu nama-nama tersebut, mereka tersinggung dan marah.[1]

B. Tinjauan Ilmu I’rab

  • يَأَيُّهَا : Rangkaian huruf nida’ يا, أي dan ها.
  • الَّذِيْنَ : Isim maushul, shilah-nya berupa lafal أَمَنُوْا.
  • لَايَسْخَرْ : لَا nahi, yang men-jazm-kan fi’il mudhari’ setelahnya, fa’il-nya adalah lafal قَوْمٌ.
  • مِنْ قَوْمٍ : Susunan jar-majrur yang ber-ta’alluq pada lafal يَسْخَرْ.
  • عَسَى : Fi’il madhi yang tam.
  •   أَنْ يَّكُوْنُوْا: Fi’il mudhari’ dari fi’il madhiكَانَ  (‘amil nawasikh).
  • خَيْراً : Khabar-nya  يَّكُوْنُوْا
  • وَلَا : Waw huruf ‘athaf, sedangkan لَا nya zaidah untuk memperkuat larangan di atas.
  • نسَآء : Kalimat yang di-‘athaf-kan pada lafal قَوْمٍ.
  • مِّنْ نِسَآءٍ : Susunan jar-majrur ber-ta’alluq pada lafal يَسْخَرْ.
  • أَنْ يَّكُنَّ : أَنْ amil yang me-nashab-kan  يَكُنَّ (fi’il mudhari’mabni sukun yang di-idgham-kan pada nun jama’ niswah), isim-nya berupa nun jama’ inats).
  • خَيْراً : Khabar-nya  يَكُنَّ.
  • مِّنْهُنَّ : Susunan jar-majrur yang ber-ta’alluq pada lafal خَيْراً.
  • وَلَا تَلْمِزُوا : Waw ‘athaf, لَا nahi yang di-‘athaf-kan pada jumlah لَايَسْخَرْ, sekaligus لَا yang men-jazm-kan lafal تَلْمِزُوا.
  • أَنْفُسَكُمْ : menjadi maf’ul bih.
  • وَلَا تَنَابَزُوا : Fi’il yang fa’il-nya berupa waw jama’. Di-‘athaf-kan pada kalimat لَايَسْخَرْ.
  • بِالْألْقَابِ : Jar-majrur yang ber-ta’alluq pada lafal  تَنَابَزُوا.
  • بِئْسَ : Fi’il madhi jamid yang digunakan untuk mengungkapkan kejelekan.
  • الْإِسْمُ : Fa’il-nya بِئْسَ.
  • الْفُسُوقُ : Menjadi mubtada’, khabar-nya adalah jumlah sebelumnya.
  • بَعْدَ الْإٍيْمَانِ :Zharaf yang ber-ta’alluq pada hal yang dibuang pada lafal الْإِسْمُ.
  • وَمَنْ : Waw athaf. مَنْ adalah isim syarat yang ber-mahal rafa’ karena menjadi mubtada’, khabar-nya ada pada jawab-nya syarat.
  • لَمْ : Huruf jazm dan nafi.
  • يَتُبْ : Fi’il mudhari’ yang di-jazm-kan oleh لَمْ.Fai’il-nya berupa dhamir yang kembali kepada مَنْ.
  • فَأُولَئِك : Fa’-nya merupakan jawab-nya مَنْ شرطيّة.
  • هُمُ : Dhamir fashl.
  • الظَّالِمُوْنَ : khabar-nya أُولَئِك.[2]

C. Penggunaan Lafal dalam Makna (Isti’mâlul-Lafzh fil-Ma’na)

Ayat di atas jika ditinjau dari prespektif ilmu balaghah masuk dalam kategori ‘Athf al-Khash ‘ala al-‘Am, tepatnya dalam firman Allah swt., “وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ ”. Mengingat “اللَّمْزُ” yang hanya bermakna menghina mengunakan lisan, di-‘athaf-kan pada “السخر” yang cakupan maknanya lebih luas, meliputi hinaan menggunkakan lisan, mata, maupun isyarat. Demikian ini bertujuan untuk mubalaghah.[3]

D.    Petunjuk Lafal pada Makna (Dalâlatul-Lafzh ‘alal-Ma’na)

Lafal ketika ditinjau dalam peletakannya pada makna terbagi mejadi ‘Am, Khas dan Musytarak.

‘Am ialah lafad yang mencakup semua partikularnya tanpa terkecuali. Lafal-lafal‘am sangatlah banyak, diantaranya adalah lafal jama’ dan lain sebagainya.

Khas menurut kacamata ushul fiqh adalah lafal yang diletakkan hanya untuk satu makna. Adapun lafal-lafal yang menunjukkan khas adalah lafal-lafal mutlaq, muqayyad, ‘amar dan nahi. Diantaranya juga apabila lafal-lafalnya menunjukkan jenis sesuatu, macam-macam sesuatu dan individu. Mutlaq ialah lafal yang mencakup semua lafal yang sejenis denganya. Sedangkan muqayyad ialah lafal yang mencakup seluruh lafal yang sejenis dengannya dan masih disifati dengan suatu sifat.

E.     Metode Petunjuk Lafal (Thuruqud-Dalâlah ‘alal-Lafzh)

Jika ayat pokok tersebut ditinjau dari segi kejelasan petunjuk yang ditunjukkan oleh ayat tersebut atau tidak, maka dapat dipastikan bahwa ayat tersebut termasuk bagian dari ayat yang jelas dalalah-nya, sebab semua lafal pada ayat tersebut tidak memiiki arti lain yang dapat diarahkan ke makna yang lain. Lafal yang jelas dalalah-nya masih terbagi menjadi empat bagian:

*Zhahir ialah lafal yang maksudnya bisa dipahami tanpa membutuhkan hal eksternal lain, dan maksud tersebut bukanlah merupakan maksud yang sebenarnya yang dikehendaki dari susunan kalimat.

*Nash ialah lafal yang maksudnya bisa dipahami tanpa membutuhkan hal eksternal lain, dan maksud tersebut merupakan maksud yang sebenarnya yang dikehendaki dari susunan kalimat.

*Mufassar ialah lafal yang lebih jelas dari nash dan maksud yang ditunjukkan oleh lafal tersebut sangatlah terperinci sehingga maksud tersebut tidak dapat ditakwil.

*Muhakkam ialah lafal yang lebih jelas dari pada mufassar dan maksud yang ditunjukkan sangatlah jelas sehingga tidak dapat ditakwil dan di-naskh.

           Meninjau keterangan di atas, ayat tersebut masuk dalam kategori zhahir yang nash, sebab maksud yang ditunjukkan oleh ayat tersebut merupakan maksud yang memang dikehendaki dari susunan kalam.

BAB IV

TAFSIR AYAT

A.    Definisi Mencela

Mencela dalam KBBI berarti mengatakan atau mengkritik seseorang bahwa ada cela atau cacat. Dan juga bisa diartikan mengecam dan menghina yang keseluruhannya tersebut merupakan perbuatan yang negatif dan tidak terpuji, bahkan dapat mendatangkan dosa jika hinaaan tersebut dilontarkan tanpa dasarkepada sesama muslim. Sebagaimana firman Allah swt.:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (الأحزاب: 58)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikulkebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 58)

      Dan juga hadis Nabi Muhammad saw., yang diriwayatkan dari Abu Hurarirah ra., Nabi saw., bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم, رواه مسلم.   

“Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia mengejek saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)[4]

Oleh sebab itu, syariat Islam mengatur kehidupan umatnya sedemikian rupa agar terjalin kerukunan dan rasa tenteram antar sesama muslim. Dan demikian itu akan terwujud, jika dalam tubuh umat Islam tidak terdapat permusuhan yang ditimbulkan dari rasa iri, dengki, hasud, saling cela, saling hina dan sebagainya.

Kata “اللَّمْزُ” (mencela) sendiri, dalam al-Quran disebutkan sebanyak empat kali,[5] termasuk surah al-Hujurat ayat 11, yang menjadi ayat utama kajian kali ini.

  1. Surah at-Taubah, ayat: 58.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (التوبة: 58)

“Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-Taubah: 58)

            Mengenai ayat di atas, Abu Said al-Khudri berkata: “Ketika Rasulullah saw., membagikan bagian-bagian dari zakat, ada seorang laki-laki (munafik) yang berkata, ‘Berlaku adillah!’ Maka beliau bersabda, ‘Jika aku tidak berbuat adil, maka siapa yang akan melakukan keadilan itu?’”. Kemudian turunlah ayat ini. (HR. Al-Bukhari)

            Demikian ini merupakan cerminan akhlak orang munafik yang tidak layak untuk kita tiru, sebab mereka tak tanggung-tanggung berani mencela Rasulullah saw., yang merupakan panutan seluruh umat Islam. Na’udzubillah.

  • Surah at-Taubah, ayat: 79.

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (التوبة: 79)

“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)

Ayat di atas merupakan bentuk penyangkalan terhadap perilaku orang munafik yang berani menghina dan mengejek orang-orang mukmin. Tidak mengherankan hinaan dan ejekan dari Allah swt., merupakan balasan yang setimpal bagi mereka.

  • Surah al-Humazah, ayat: 01.

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (الهمزة: 01)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 01)

            Dari zhahir-nya ayat di atas, jelas diterangkan bahwa para pengumpat dan pencela kelak di akhirat akan celaka.

B.     Macam-macam Mencela

Mencela merupakan tindakan yang dapat diekspresikan melalui pelbagai bentuk cara. Dalam bahasa Arab saja, berbeda sarana yang dipakai, maka berbeda pula kosa kata yang digunakan. Hal ini dapat kita lihat dalam ayat utama –surah al-Hujurat, ayat: 11– yang memuat kata “سخر” dan “لمز”, di mana keduanya notabene digunakan untuk mencela atau menghina dan perbedaannya hanya dalam caranya saja. Berikut uraiannya:

  1. Menghina dan menyebutkan aib-aib atau kekurangan atas dasar mnertawakan (mengejek) dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata “سخر”. Terkadang kata tersebut direalisasikan melalui ucapan, perbuatan, isyarat, ataupun dengan menertawakan perkataan yang keliru, kebanyakan orang memeakainya kepada laewan bicara laki-laki, tidak kepada perempuan sebagaimanna yang tertera pada potongan ayat utama:

لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ (الحجرات: 11)

Kaum dalam ayat di atas tertentu kepada para lelaki saja, bukan kepada kaum hawa karena Allah swt., menegaskan bahwa para lelaki mengungguli wanita dalam urusan-urusan tertentu. Sesuai dengan firman Allah swt:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ (النساء: 34)

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan).” (QS. An-Nisa’ [04]: 34)

  • Mencela dengan menggunakan ucapan atau isyarat denga tangan, mata, dan sesamanya dalam bahasa Arab diistilahkan dengan “اللَّمْزُ”, sebagaimanna yang tertera pada potongan ayat utama:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ (الحجرات: 11)

“Janganlah kalian mencela satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat[49]: 11)

            Dalam ayat di atas orang-orang mukmin bagaikan satu tubuh, sebab jika seorang mukmin mencela mukmin yang lain maka seakan-akan dia mencela dirinya sendiri.

            Diantara arti “اللَّمْزُ” adalah mencacat, memukul dengan lidah. Dan di dalam kitab al-Mishbah disebutkan bahwa “لمز” secara bahasa berarti membunuh,[6] mengingat pengaruh yang ditimbulkan dari mencaci adalah melukai dan menyayat hati, sebagaimana pepatah arab mengatakan “lidah bagaikan pedang”.

F.     Etika Bersosial Sesama Muslim

Agama Islam adalah syariat Allah swt., yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., melalui Malikat Jibril. Seluruh urusan umat Islam diatur di dalamnya, mulai dari tata cara ibadah, transaksi, bersosial, hingga masalah privasi individual.

Demikian itu, dapat kita lihat dari peggalan surah al-Hujurat, ayat 11 yang di dalamnya memuat sebagian etika luhur yang Allah swt., ajarkan kepada hambanyayang beriman. Berikut rinciannya:

  1. Larangan menghina orang lain, meremehkan, dan menertawakannya dalam potongan ayat:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا ِنسَآءٌ مِّنْ نِسَآءٍ عَسَى أَنْ يَّكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ[7]

          Maksudnya, wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian para laki-laki menghina  satu sama yang lain, karena orang yang dihina terkadang lebih baik di hadapan Allah swt., dari pada yang menghina. Dan terkadang orang yang diremehkan jauh lebih tinggi derajatnya di sisi Allah swt., dan lebih dicintai oleh-Nya dari pada orang yang meremehkan.

            Oleh karenanya, perbuatan semacam itu jelas dilarang dan diharamkan dalam agama Islam. Dan alasan (‘illat) keharaman tersebut telah disebutkan oleh Allah swt., dalam firman-Nya:

عَسَى أَنْ يَّكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ[8]

          Demikian ini bertujuan agar tidak disangka larangan menghina tersebut tidak mencakup pada para wanita. Di samping juga untuk menguatkan larangan, dengan adanya larangan khusus kepada wanita.

            Mengenai penggunaan shighat jama’ yang terdapat pada ayat di atas, hal ini dikarenakan kebanyakan hinaan itu terjadidalam perkumpulan manusia. Kendati demikian, tidak lantas menjadikan larangan menghina terbatas kepada perkumpulan laki-laki dan perempuan saja, melainkan mencakup kepada seluruh individu, karena nahi di atas bersifat umum sehingga hukum larangannya pun bersifat umum pula.

            Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah ra., Nabi saw., bersabda:

إن الله لاينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم, رواه مسلم.

“Sesungguhnya Allah tidak menilai kalian dari bentuk dan harta, melainkan Allah menilai dari hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

            Dari hadis di atas jelas bahwa pada hakikatnya perbedaan itu terletak pada ikhlas dan bersihnya hati, juga murninya amal karena Allah swt. Bukan terletak pada marga, nasab yang mulia, dan harta yang melimpah.

  • Larangan mencela, mencemooh, dan mencaci, baik menggunakan  ucapan atau isyarat. Sebagaimana firman Allah swt.,:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ[9]

Yakni, janganlah kalian mencaci orang lain dan jangan pula kalian mencela satu sama lain dengan perkataan, perbuatan, atau isyarat. Padahal Allah swt., telah menjadikan cacian seorang mukmin sebagai cacian kepada dirinya sendiri, karena orang-orang bagaikan satu tubuh. Hal ini senada dengan firman Allah swt.,:

ولا تقتلوا أنفسكم[10]

Dan juga hadis Nabi saw.,:

المؤمنون كرجل واحد إن اشتكى راءسه اشتكى كله وإن اشتكى عينه اشتكى كله, رواه مسلم.

“Orang-orang mukin bagaikan satu orang. Bila kepalanya sakit, maka semua anggota tubuh merasa sakit. Dan bila matanya sakit, maka semuanya turut merasakan sakit.” (HR. Muslim)

            Mencemooh, mencaci, dan mencela sendiri merupakan perbuatan yang tercela dan terlaknat. Sebagaimana firman Allah swt.,:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (الهمزة: 01)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 01)

Al-Hamz di atas merupakan perbuatan mencela dengan menggunakan tingkah laku. Dan al-Lamz adalah celaan dengan menggunakan ucapan atau kata-kata. Dan Allah swt., mencatat perbuatan orang ynag gemar mencela dalam firman-Nya:

هماز مشاء بنميم (القلم: 11)

“Suka mencela yang kian kemari menyebarkan fitnah. (QS. Al-Qalam: 11)

Lantas, perbedaan diantara as-Sakhr dan al-Lamz terletak pada cara penerepannya. Yakni, as-Sakhr adalah menghina seseorang di hadapannya dengan cara apapum atas dasar menertawakan. Sedangkan al-Lamz adalah menyebut kejelekan seseorang, baik itu atas dasar menertawakan atau tidak, dan juga praktik al-Lamz tidak harus di hadapan orang yang dicela.

Dari pemaparan di atas, maka diketahui bahwa makna al-Lamz lebih universal dari as-Sakhr.

  • Larangan memanggikl seseorang dengan julukan yang bisa membuatnya tersinggung, sebagaimana firman Allah swt.,:

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْألْقَابِ[11]

“Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang Islam dilarang memanggil dengan gelar atau julukan yang buruk antar satu sama yang lain. Seperti perkataan seorang muslim kepada muslim lain “Hai orang fasik!”. Atau ucapan kepada orang muallaf “Wahai orang Yahudi!”, “Wahai orang Nasrani!”, padahal dia telah memeluk agama Islam.

Mengenai hukuk menjuluki orang dengan gelar-gelar buruk yang ada pada orang tersebut, ulama sepakat akan keharamannya.[12] Di samping juga ada hadis Nabi saw.,:

عن إبن مسعود رضي الله عنهما: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سباب المسلم فسوق وقتاله كفر, متفق عليه.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Mencaci-maki orang Islam adalah perbuatan fusuq (menyimpang dari tuntunan agama), dan membunuh orang Islam itu adalah kufur.

(Muttafaq ‘Alaih)

            Demikian ini jika gelar-gelar buruk tersebut membuat orangnya tersinggung. Adapun jika terdapat seseorang yang lebih dikenal dengan julukannya, maka mengucapkannya boleh-boleh saja.[13] Seperti al-A’masy dan al-A’raj yang berarti buta dan pincang.

            Sedangkan julukan yang sifatnya memuji, maka tidak haram mengucapkannya. Seperti gelar ‘Atiq bagi Abu Bakar ash-Shiddiq, al-Faruq bagi ‘Umar ibn al-Khaththab, Dzun-Nurain bagi ‘Utsman bin ‘Affan, Abu Turab bagi Ali bin Abi Thalib, dan Saifullah bagi Khalid bin al-Walid.[14]

            Seburuk-buruknya julukan adalah fasik, kafir, pezina yang disematkan kepada orang lain, padahal dia telah masuk Islam dan bertaubat. Hal ini selaras dengan firman Allah swt.,:

بِئْسَ الْإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإٍيْمَانِ

“Seburuk-buruk panggilan adalah fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

            Dan konsekuensi orang yang tetap berbuat tiga poin di atas (menghina, mencela, dan menjuluki dengan gelar buruk) adalah menyandang predikat zalim dan menjerumuskan dirinya pada azab Allah swt. Allah swt., berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Dan juga Allah swt., juga berfirman:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (التوبة: 79)

“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [09]: 79)

            Demikian ini, tidak sepantasnya dikerjakan oleh orang mukmin. Karena Nabi saw., pernah bersabda:

عن إبن مسعود رضي الله عنهما: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذي, رواه الترمذي وقال: حديث حسن.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka menghina, suka mengutuk, suka melakukan perbuatan keji dan mengatakan perkataan kotor. (HR. At-Turmudzi)

Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

Bab V

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan
  2. Terdapat empat ayat yang menyinggung tentang mencela
  3. (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
  4. (QS. At-Taubah: 58)
  5.  (QS. Al-Humazah: 01)
  6. Hadis-hadis mengenai mencela sangatlah banyak, dianataranya hadis yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi.

عن إبن مسعود رضي الله عنهما: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذي, رواه الترمذي وقال: حديث حسن.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka menghina, suka mengutuk, suka melakukan perbuatan keji dan mengatakan perkataan kotor. (HR. At-Turmudzi. Beliau berkata: Hadis ini hasan)

  1. Mencela sebagaimana penjelasan KBBI berarti mengatakan bahwa ada celanya, mencacat, mengecam, mengkeritik, dan menghina
  2. Ada dua macam jenis mencela yang terdapat dalam ayat utama
  3. سخر : Menghina seseorang dihadapannya dengan cara apa saja atas dasar menertawakan
  4. لْمز : Mencela orang lain, baik untuk menertawakannya  atau tidak
  5. Hukum mencela sesama muslim adalah haram. Illat (alasan) keharaman tersebut dijelaskan dalam firman Allah SWT;

عَسَى أَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْراً مِّنْهُمْ

Dan juga ancaman Alah SWt bagi orang yang gemar mencela dalam firman-Nya;

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

B. Implikasi

Bagi saudara muslim yang aktif dalam media social agar menggunakannya secara arif dan bijak. Karena sangat disayangkan jika media social dijadikan ajang mencela dan caci maki tanpa dasar. Terlebih bila yang mereka caci sesama muslim, yang nantinya hanya akan meneyebabkan permusuhan yang berkepanjangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qaththan, Syaikh Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, diterjemahkan oleh    Ainur Rafiq El-Mazni dari “Mabahits Fii Ulum Al-Qur’an,” Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cetakan VIII, 2013.

___________. 1994/1415. Tarikh al-Islam. Dar al-Kutub al-Arabi. Cet:2.

Goldziher, Ignaz, Mazhab Tafsir: Dari Aliran Klasik Hingga Modern, diterjemahkan oleh M. Alaika Salamullah, dkk. dari “Madzahib al-Tafsir al-Islami,” Yogyakarta: eLSAQ Press, Cetakan I, 2003.

Mahmud bin Umar Al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari, Abu Al-Qasim, Al-Kasysyaf an Haqa’iq Ghawamidh At-Tanzil wa Uyun Aqawil fi Wujuh At-Tanzil, Beirut: Darul Fikr,  Cetakan I, 1977.

Yusuf, Muhammad, dkk. Studi Kitab Tafsir: Munyuarakan Teks yang Bisu (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2004)

Az-Zarikli, Khoirud-Din bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris. 2002. Al-A’lam; Qamus Tarajim li-Asyharir-Rijal wan-Nisa’ minal-‘Arab wal-Mustaghribin wal-Mustasyriqin. 1999. Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin. Cet: 14.

Adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Husain. at-Tafsir wal-Mufassirun. 1976\1396 Bairut: Darul Fikr. Cet: 2.

Imam Abul Abbas Syamsuddin Ahmad bin Mihammad bin Abu Bakar bin Khalikan. Wafayat al-A’yan

Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun. Bairut: Darul Fikr.

Az-zamakhsyari. Ibnu Qasim Jarullah Mahmud ibn Umar al-Khawarismi, al- Kassyaf ‘an Haqâ’iqit-Tanzîl wa Uyûnil-Aqawil fi Wujûhit-Ta’wîl, 1983/1403.

BIOGRAFI PENULIS


[1] Al-Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, juz: 3, hal. 725.

[2] Muhammad al-Amin al-Urami, Hada’iq ar-Ruh wa ar-Raihan, Dar Thauq an-Najah, Beirut, Lebanon, juz: 27, hal. 397.

[3] Ibid, hal. 412.

[4] Drs. Muslich Shabir, MA, Terjemah Riyadhus Shalihin, PT Karya Toha Putra, juz: 2, hal. 258.

[5] Dr. Abd. Shabur Marzuq, Mu’jam al-A’lam wa al-Maudhu’at fi al-Qur’an al-Karim, Dar Syuruq, juz 3, hal. 1152.

[6] Muhammad al-Amin al-Urami, Hada’iq ar-Ruh wa ar-Raihan, Dar Thauq an-Najah, Beirut, Lebanon, juz: 27, hal. 406.

[7] QS. Al-Hujurat [49]: 11.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] QS. An-Nisa’, ayat 29.

[11] Ibid.

[12] Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, juz 26, hal. 253.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

One Reply to “Contoh Makalah yang Benar: Hadits Tentang Mencela Orang Lain”

  1. Benar apa yang seperti tulisan ini. Memang mencela tiadak ada sama-sekali untungnya. Adanya hanya merugikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *