Hukum Tajwid dan Contohnya ala Kitab Turas

  • Bagikan

Sudah maklum di kalangan kita, baik itu santri atau orang biasa, baik pernah mengaji atau tidak pernah mengaji, bahwa dalam membaca Al-Quran kita harus membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan kaedah tajwid. Tak hanya bermodalkan suara yang indah dan merdu, sebab Allah  berfirman di dalam al-Quran yang artinya, “Dan bacalah Al-Quran dengan tartil’’. Dari ayat ini Imam Baidhawi memberi penafsiran bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah, “Perindahlah bacaanmu dengan tajwid.“ Dan Sayyidina Ali memberi pemahaman bahwa yang dimaksud dengan lafadz at-tartil dalam ayat di atas adalah memperindah huruf-huruf sekaligus waqafnya.

Dari penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa dalam membaca Al-Quran kita harus sesuai dengan kaedah-kaedah tajwid. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah apakah sebenarnya ilmu tajwid itu? Bagaimana hukum mempelajari dan mempraktikkanya? Serta apa faedah dari mempelajarinya?, Pada tulisan kali ini kami akan membahasnya satu persatu.

Apa Ilmu Tajwid Itu?

Di dalam kitab Juhdul-Miqulli karya Imam Muhammad bin Abi Bakar al-Mar’asiyyi disebukan bahwa secara etimologi kata at-Tajwid mempunyai arti tahsin atau memperindah, adapun secara terminologi adalah ilmu yang membahas makhraj-makhraj huruf dan sifat-sifatnya. Selain pengertian di atas, ada juga ulama yang memberi pengertian bahwa ilmu tajwid adalah mempraktikkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan hak-hak, sifat dan hal yang terkait dengannya. Pendapat ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Imam Ibnu al-Jazari di dalam kitabnya At-Tamhîd fî Ilmit-Tajwîd.

Dari dua pendapat ini kita bisa menarik benang merah dengan mengkompromikan dua pendapat di atas, bahwa yang dimaksud dengan ilmu tajwid adalah ilmu yang membahas makhraj dan sifat-sifatnya huruf, sekaligus cara untuk melafadzkan huruf-huruf tersebut sesuai dengan hak-haknya, sehingga bacaan kita akan bagus dan indah.

Hukum mempelajari dan mempraktikkannya.

   Mengenai hukum mempelajari ilmu tajwid, para Ulama sepakat bahwa mempelajarinya adalah berhukum fardhu kifayah, sedangkan mempraktikkannya berhukum fardhu ‘ain, dengan artian setiap individu diwajibkan untuk mempraktikkannya, sebab Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad  dengan tajwib, dan sampai kepada kita juga dengan menggunakan tajwid.

Selain itu, sebagaimana orang yang mempelajari makna dan arti Al-Quran itu dianggap melakukan ibadah, maka sudah seyogyanya orang yang mempelajari dan mempraktikkan Al-Quran sesuai kaedah tajwid juga dianggap melakukan ibadah, sebab orang yang membaca Al-Quran dengan tanpa menggunakan kaedah-kaedah tajwid oleh para ulama dianggap “ lahnun”, yang artinya adalah salah, keliru, dan berpaling dari kebenaran. Sedangkan keliru dalam Al-Quran itu diharamkan secara syara’, sebab hal tersebut dianggap mengurangi sesuatu dalam Al-Quran, yang mana hal tersebut sama halnya dengan mengurangi dzatiyah Al-Quran itu sendiri.

Faedah Ilmu Tajwid

Nampaknya tanpa dijelaskan secara gamblang pun dalam tulisan ini, para pembaca sudah mengerti faedah dari mempelajari ilmu tajwid, sebab hal tersebut memanglah sesuatu yang lumrah kita ketahui. Namun, tidak ada salahnya jika kami membeberkan sedikit beberapa faedah dari mempelajari ilmu tajwid, diantaranya adalah mendapatkan pahala sebagaimana yang telah dijelaskan di depan, bahwa hukum dari mempelajari dan memperaktikkan Al-Quran adalah fardhu, maka sudah jelas bagi pelakunya akan mendapatkan pahala jika dia melakukannya, dan akan mendapatkan dosa jika dia meninggalkannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam ilmu ushul kita. Dan masih banyak lagi faedah-faedah yang lainnya.

Cukup sekian penjelasan dari kami. Jika semisal Anda ingin mengetahui hukum tajwid di surat pendek dan ilmu tajwid yang lain, bisa benget untuk mengunjungi website nada313.com.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *