hadits menjaga lisan

Inilah Hadits Menjaga Lisan dan Penjelasan Ulama

Ada pepatah Arab: al-qalam ahadul-lisanaini, pena (tulisan) adalah salah-satu dari dua lisan. Ada banyak sekali hadits menjaga lisan. Tentu hadits tersebut juga mencakup menjaga tulisan di sosial media.

Khususnya, saat sudah bermunculan teknologi mutakhir, seperti Kelebihan Jaringan 5G yang pernah di bahas dalam situs izazzazi. Tentu dengan perkembangan pesat teknologi, kita juga perlu mengontrol kedua lisan kita, khusunya saat berpendapat di sosial media.

Lisan adalah salah satu nikmat Allah yang agung dan termasuk ciptaan Allah yang samar dan aneh, bentuknya yang kecil akantetapi ketoatan dan juga kemaksiatan yang ditimbulkannya sangat besar, kerena iman seseorang yang termasuk inti dari pada ketoatan dan kufurnya seseorang yang termasuk inti dari kemaksiatan itu tidak akan tampak kecuali dengan kesaksian lisan.

Untuk itulah admin Tugasakhir-Skripsi saat ini membahas seputar lisan. Soalnya, cakupan lisan itu sangat luas sekali, sehingga sesuatu yang dicakup oleh pengatahuan juga dicakup oleh lisan yang tampak atau tidak tampak yang dihayal, atau diketahui, diduga atau dicurigai, keistimewaan ini tidak di temukan pada anggota tubuh yang lain.

Seperti mata tidak bisa mencakup pada selain warna dan bentuk. Telinga tidak mencakup pada selain suara, Tangan tidak mencakup pada selain benda dan juga anggota badan yang lainnya.

Lisan itu bagaikan lapangan luas yang tidak punya batas dalam ke baikan dan kejelekan. Apabila seseorang itu membiarkan lisannya atau tidak mengendalikan maka ia akan di kendalikan oleh setan dan dibawa kejurang kecelakaan, karena seseorang itu tidak akan di masukkan kedalam neraka kecuali disebabkan dari buah lisannya, dan seseorang tidak akan bisa selamat dari kejelekan lisan kecuali jika lisannya di kekang dengan kekangan syariat sehingga lisan itu tidak berbicara kecuali sesuatu yang bermemfaat baik didunia maupun diakhirat.

Untuk mengetahui ucapan yang dipuji dan dicela itu sulit, dan untuk melaksanakannya juga sulit, dan paling sulit untuk menjaganya daripada anggota badan yang lain karena mulut itu tidak bertulang dan tidak pernah letih dalam berbicara dan tidak harus mengeluarkan biaya dalam menggerakkannya padahal mulut itu media setan paling ampuh dalan menjerumuskan manusia.

Adapun bahaya yang ditimbulkan dari lisan itu besar dan seseorang tidak akan bisa selamat, kecuali dengan diam, oleh karena itu syariat sangat menyanjung dan mendorong untuk diam. Nabi Muhammad SAW. Bersabda “Siapa orang yang menjamin kepadaku untuk bisa menjaga mulut dan farjinya maka saya akan menjamin orang itu dengan masuk surga” dan juga sabda Nabi ketika ditanya mengenai paling besarnya sesuatu yang membuat orang masuk neraka, Beliau menjawab “Dua lubang, yaitu mulut dan farji.” Menurut Imam al-Ghazali yang di maksud mulut adalah bahaya ucapan yang dikeluarkan oleh mulut karena mulut merupakan tempatnya berucap. Beliau juga menuturkan banhwa yang di maksud mulut bisa jadi adalah perut, karena mulut adalah jalan tembus menuju perut.

Oleh karena itu, kalau seseorang ingin selamat dari bahaya mulut maka ia harus perbanyak diam, karena kebanyakan dosa anak adam itu disebabkan lisannya, sebagaimana disebutkan dalab beberapa hadits menjaga lisan.

Ada sebuah cerita, Nabi Isa AS. ketika ditanyai mengenai perbuatan yang membuat masuk surga, Nabi Isa AS. menjawab “Jangan berbicara selamanya kalau tidak mampu, jangan berbicara kecuali yang baik.” Ibnu Masud berkata Nabi bersabda “ Manusia ada tiga, orang yang beruntung, orang yang selamat, orang yang celaka. Yang beruntung adalah orang berdzikir, yang selamat orang yang diam, yang celaka orang yang berbicara bohong” yang jelas, orang yang banyak berbicara banyak bohongnya otomatis banyak dosanya, orang yang banyak dosanya tempat yang lebih layak adalah neraka.

jadi tidak heran kalau Abdullah bin Masud barkata “Tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk dipenjara dengan penjara yang sangat lama dari pada lisan.” ungkapan yang sering kita dengar adalah “Mulutmu adalah harimaumu” ternyata selaras dengan perkataan imam Thaus

لساني سبع ان ارسلته اكلتني

“Mulut adalah bagaikan hewan buas yang siap menerkam siapa saja dan kapan saja bila kita tidak menjaganya” Sedangkan menjaganya dengan cara diam.

Ulama salaf menuturkan: Dalam orang yang diam itu terdapat dua keutamaan, Pertama, selamat agamanya, Kedua, gampang paham. Maka tidak heran kalau ulama-ulama terdahulu sangat menjaga lisannya.

Diceritakan bahwa Imam Mansur bin Mu’tamar tidak pernah berbicara walaupun satu kata setelah Shalat Isya’ selama tiga tahun dan juga Imam Robi’ bin Khoitzam tidak pernah membicarakan dunia selama duapuluh tahun dan setiap pagi beliau menyiapkan kertas dengan pena untuk menulis setiap ucapan yang diucapkan dan ketika sore beliau mengevaluasi dirinya.

Sama halnya dengan julukan yang di nisbatkan pada ibnu hajar (anaknya batu) yang mana nama aslinya adalah Ahmad ibnu muhammad bin ali bin hajar, di karenakan salah satu embahnya selalu diam tidak pernah berbicara kecuali ada keperluan sehingga disamakan dengan batu. Semua itu adalah bentuk kehati-hatian ulama terdahulu dalam menjaga lisan.

Mengapa dalam diam itu terdapat keutamaan yang sangat besar? Ketahuilah bahwa semua penyakitnya lisan seperti keliru, bohong, menggunjing, mengadu domba, ria’, barkata kotor, debat, cekcok dengan orang lain, merubah, menambah, ataupun mengurangi perkataan, menyakiti orang lain merusak kehormatan orang lain dan lain-lainnya.

Itu semua tidak sulit sama sekali bagi lisan, bahkan kadang ada rasa senang dalam hati ketika melaksanakannya, disamping masih ada dorongan dari nafsu dan setan, dan hal tersebut tidak akan terjadi jika kita diam. Oleh karena itu keutamaan diam itu sangat besar, selain itu dengan diam seseorang itu bisa selamat dari tuntutan yang ada pada ucapan baik di dunia maupun dihisab di akhirat. Allah SWT. Berfirman

وما يلفظ من قول الا لديه رقيب عتيد

“Tidak ada suatu kata yang diucapkan melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

Ucapan itu dibagi empat

  • Pertama, ucapan yang berbahaya
  • Kedua, ucapan yang bermamfaat
  • Ketiga ucapan yang berbahaya dan bermamfaat
  • dan yang terakhir ucapan yang tidak berbahaya dan tidak bermamfaat

semuanya itu harus di tinggalkan kecuali yang ucapan yang bermamfaat, itupun masih tidak lepas dari dosa karena bisa bercampur dengan riya’, menggunjing dan lainnya yang samar untuk di ketahui. Jadi sangat jelas hadits menjaga lisan, yakni sabda Nabi SAW:

من صمت نجا

“Orang yang diam maka akan selamat”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *