membangun bisnis islami

Konsep Bisnis Islam ala Sahabat Nabi

Jika suatu negara telah mencapai angaka 3% (bisnisman) dari pergolakan bisnisnya di negara tersebut, maka negara itu akan maju, tapi kenyataanya negara kita masih banyak kemiskinan merajalela di pelosok nusantara. Bisnis yang dimotori oleh anak muda sangat diperlukan di era serba cepat, karena pemuda bumi pertiwi ini bisa berevolusi menjadi negara maju. Banyak perkembangan yang dialami oleh anak muda, diantaranya Nadiem Makarim CEO gojek indonesia. Laki-laki yang berusia kisaran 30 tahun ini berkat usaha gojek onlinenya, keluh kesah yang dihadapi sering terjadi, bahkan dia pun sempat bekerja sebelum menggagas usahanya menjadi pegawai di sebuah perusahaan konsultan Mckinsey dan Company, Managing di Zalora Indonesia, meski sempat dianggap remeh ide usahanya yang tidak masuk akal dan mendapat cibiran banyak pihak.

Kita melihat perjuangan laki-laki yang lebih muda dari CEO gojek yaitu Ahamd Zaki pria kelahiran 1986, telah berani menggagas perusahaan atas kerja keringatnya sendiri dan banyak diminati orang , tiada lain membuka belanja online yang diberi nama Buka Lapak. Percaya atau tidak kalau awalnya situs jual-beli online ini hanya sebuah divisi agensi digital bernama Suitmedia yang kemudian berubah menjadi PT(perseroan terbatas ). Meski sudah berdiri tahun 2010, perjalanan berliku dirasakan oleh CEO buka lapak dan tidak semulus kebanyakan yang orang pikirkan dalam menempuh usaha yang digelutinya. Jika kita ingin menengok sejenak sejarah perkembanagan bisnis sebagaimana hadis nabi 9 pintu rezeki hanya dilewati oleh perniagaan (bisnis), islam punya sahabat miliader di era Rasulullah Abdurahaman  bin auf bisa menguasai pasar Madinah hanya selang beberapa waktu setelah melakukan hijrahnya.

Abdurahaman  bin Auf

 Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi. Hingga dipertemukanlah mereka.

Sa’ad berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku adalah orang yang paling banyak harta di Madinah, maka pilihlah olehmu separuh hartaku dan ambillah. Aku juga mempunyai dua orang istri, lihatlah siapa diantara mereka berdua yang engkau sukai, maka aku akan menceraikannya (dan menikahkannya denganmu).”

Abdurrahman bin Auf berkata, Laa (tidak), “Semoga Allah memberkatimu, dalam harta dan keluargamu,. Akan tetapi Abdurrahman bin Auf berkata kepada Saad bin Rabi, “Tunjukkanlah kepadaku pasar “.

Maka Saad pun menunjukan kepada Abdurrahman bin Auf jalan menuju pasar dan segera Abdurrahman bin Auf bergegas menuju ke pasar.

Di sana Abdurrahman bin Auf melakukan “riset pasar”, melihat peluang apa yang bisa dikelolehnya. Di dalam pengamatannya Abdurrahman bin Auf meras harga sewa di pasar Madinah sangat mahal, dan seketika itu juga Abdurrahman bin Auf melihat lahan di samping pasar yang tidak dikelola dan dia segera bergegas menemui Saad bin Rabi.

Sesampainya di rumah Saad, Abdurrahman bin Auf menawarkan kerjasama dengan Saad terkait lahan tersebut, lalu Saad menyetujuinya dan segera membeli lahan tersebut. Seketika itu juga tanah tersebut dibangun dan dikavling-kavling. Sehinga jadilah kavlingan Pasar. Seketika itu Abdurrahman bin Auf menjadi pebisnis kavling pasar (Property) hingga Beliau menjadi salah satu orang terkaya di zamannya.

Begitu juga dengan Shahabat Umar bin Khaththab ra,, Ketika Umar bin Khattab wafat, beliau meninggalkan (properti) ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang katanya kalau dikonversi ke dalam rupiah saat ini, ladangnya sebesar Rp 160 juta,

Jika dikonversi berarti Khalifah Umar meninggalkan warisan sebanyak 11,2 trilyun. Rata-rata penghasilan ladang pertanian tersebut mencapi 40 jutaan per tahun. Berarti Sahabat Umar mendapatkan penghasilan 2,8 trilyun, atau 233 milyar per bulan. (Sumber Era Muslim / Fikih Ekonomi Umar bin Khatthab Maka dari itu, Umar bin Khattab pun memiliki bisnis property yang nilainya sangat besar.

Ustman bin Affan

Lalu bagaimana dengan Khalifah Utsman? Ia dikenal sebagai shahabat yang paling kaya raya, bahkan kekayaannya konon melebihi saudagar Abdurrahman bin Auf. Kisahnya yang mahsyur adalah ketika beliau membeli setengah kepemilikan sumur Bi’ru, di Madinah dari seorang Yahudi yang sangat opportunis.

Konsep Berbisnis yang Islami

Fakta dari tahun ke tahun bisnis dengan konsep islami sangat berpengaruh di seluruh pelosok dunia. Karena terjaganya etika dalam berniaga dalam sesama penjual pembeli, tapi banyak orang Barat yang mengklaim etika berbisnis datang dari Amerika, Itali, Spanyol dan negara-negara lain. Satu pendapat etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970-an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980an dan menjadi fenomena global di tahun 1990-an. Jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat, akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolak kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. 

Ketika sebagian besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya. Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang Muslim. Dalam al-Quran terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba.

Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: “Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki.” Dawam Rahardjo justru mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai tanggungjawab manusia terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam.

Sebelum menutup tulisan ini, alangkah baiknya bagi yang sedang mencari Jasa pembuatan studi kelayakan dan Jasa studi kelayakan mengunjungi situs grapadikonsultan.co.id. Di sana lengkap, kok! Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *