Nulis Nunggu Tulus, Sebuah Problem!

  • Bagikan

Setiap pekerjaan tergantung pada niatnya, jika niat baik tentu imbas dari pekerjaan itu baik pula. Tapi pernahkah kamu mengalami ketika kamu berkeinginan mengerjakan sesuatu, tetapi suatu itu belum terlaksana kecuali hanya menjadi sebuah wacana. Itu namanya tidak niat! Karena kalau orang benar-benar niat tentu saja orang tersebut akan berusaha  komit dengan apa yang ingin diupayakannya. Ya beginilah brow sebuah  problem jika keinginan baik tak diimbangi dengan motivasi, hasilnya nihil!

Kog bisa? Kerena motivasi ibarat manusia dan suatu keinginan adalah gerobaknya. tanpa motivasi apa yang di inginkan tentang sebuah pekerjaan akan mandeg alias tanpa hasil. Begitupun juga motivasi dengan tanpa keinginan hasilnya sama-sama nihil, karena nggak ada sesuatu yang mau di dorong. Maka disinilah perlunya mensinergikan keinginan melakukan suatu pekerjaan dengan sebuah motivasi. Disini suatu yang menjadi motivasi nggak harus langsung baik, bolehlah sebagai pemain amatiran kita melenceng sedikit, he..he…he

Seperti saya ini yang sudah tiga tahun berkeinginan untuk selalu komit dalam menulis. Tapi nyatanya apa semangat saya kembang-kempis.  Hanya saja entah kenapa beberapa hari lalu saya digerakkan allah Swt untuk mencari website yang dapat membantu saya untuk mengembangkan bakat yang saya minati ini.  Dari beberapa website yang saya tengok entah kenapa saya tertarik pada salah satu website Bukannnya apa sich? Tapi memang kebebasan berekspresi itu ada di sini. Disini orang bebas menuangkan ide-idenya, ketentuan-ketentuannya pun nggak ribet dan enakanya lagi penulis berhak mendapat poin yang dapat ditukar nomina luang nantinya. Tentunya hal yang menarik bagi penulis pemula.

Tidak hanya itu, saya juga mulai membikin website-website saya. Hari gini, tentunya sangat banyak Jasa Pembuatan Website Bandung. Mulai dari website yang standart, hingga Website Esports. Jadi, enaklah. Asal seseorang memiliki kemauan, jalan sudah pasti terbuka lebar. Tentunya keuntungannya pun, bisa berlimpah.

Dasar mata duitan! Ya makanya karena saya mata duitan, maka hal ini saya jadikan kesempatan untuk menjadikannya sebagai pendorong semangat dalam menulis. Bukanya jika pendorongnya kuat maka potensi sampai pada tujuan akan semakin besar. 

Tapi motivasi kamu itu nggak baik untuk dicontoh,itu kan niat yang nggak baik. Kan saya sudah bilang untuk kelas pemula ini dimaafkan, karena kalau nunggu tulus jadinya nggak nulis-nulis. Biarlah keihklasan mengalir dengan sendirinya, bener nggak sich?

Emang yakin tulisan lo bakalan diterima sama website itu, jangan kepedean dech? Ini bukan masalah pede atau nggak ya, tapi setidaknya walau tulisan tidak dimuat, kan hasil dari pendorong itu ada, yaitu selalu komit dalam menulis. Apa yang aku lakukan ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Karena yang aku ikuti disini adalah ulama’ sekaliber Imam Ghozali. 

Hei, mana ada ulama sekaliber Imam Ghazali yang yang terkenal dengan karya tasawufnya menganjurkan untuk tidak tulus dalam melakukan suatu pekerjaan 

Ya, memang tapi perlu diketahuai oleh anda-anda sekalian bahwa pengembaran beliau terhadap suatu majelis ilmu itu tidak murni berangkat dari ketulusan. Ceritanya seperti ini ketika ayah imam ghazali meninggal Imam Ghazali dititipkan kepada teman ayahnya yaitu  Ahmad bin Muhammad Al Rizkani . Dimana Menjelang wafat ayahnya mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya tersebut Ayahnya berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” Kesimpulannya jangan karena niat masih belum tulus, lalu kita meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya baik.  Jadi, teruslah lanjutkan pekerjaan itu  sampai pada nantinya kalian sudah terbiasa hingga pada akhirnya mampu mengeluarkan diri dari motifasi kurang baik itu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *