figurinha

Perjalanan Literasi dalam Pesantren Salaf

Pesantren memanglah tempat yang tepat bagi orang yang ingin mencari ilmu agama. Namun, tidak semua pesantren yang hanya condong dan fokus pada pendidikan agama saja bahkan kebanyakan dari pesantren-pesantren yang sangat marak keberadaanya dan begitu mudah kita mendapatinya menyisipkan pendidikan formal di dalamnya, dengan membangun madrasah yang setara dengan sekolah-sekolah pada umumnya, serta menjadikan pendidikan agama di dalamnya hanyalah sebagai sampingan belaka, bukan malah menjadikannya sebagai pendidikan dasar dan landasan utama terhadap terwujudnya pendidikan formal.

Selain itu, ternyata di era-globalisasi modern saat ini, kita masih biasa menemukan podok pesantren yang benar-benar fokus pada pendidilan agama, dan menjadikan kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama terkemuka dan terkenal sebagai pokok dari sistem belajar-mengajarnya. Pesantren semacam ini kemajuannya lebih pesat dibandingkan dengan pesantren yang di dalamnya mengutamakan pendidikan formal serta lebih dikenal di mata bangsawan dibandingkan sekolah di universitas yang berbasis pendidikan umum.

Termasuk corak pesantrn yang mengedepankan salaf ialah pesantren yang fokus terhadap pendidikan agama dengan berlandasan Al-Qur’an dan Hadits serta fatwa-fatwa ulama dijadikannya sebagai pegangan dan panduan. Seiring berjalannya zaman pesantren tidak ingin kalah saing dangan podok pesantren dan sekolah umum lainnya. Meski pondok ini menjadikan kitab karangan para ulama salih sebagai kurikulum Madrasiyah tersebut podok ini juga menyediakan berbagai kursus yang dikhususkan untuk para santri yang belajar di pondok tersebut. Salah satu kursus yang diadakan oleh pesantren ini adalah kursus Jurnalistik. Yakni, sebuah kursus yang di adakan untuk pembelajaran dan pengembangan bagi santri dalam bidang tulis menulis dan sebagai wadah dakwah bagi santri dalam bentuk tulisan.

Di dalam Jurnalis sendiri memberikan peluang besar bagi santri untuk bisa menjadi seorang penulis handal serta penyair, perintis dan sastrawan terkenal. Sebagai bukti bahwa seorang santri yang belajar di pondok salaf, bukanlah mahir dalam bidang keagamaan saja. Namun, juga mahir dalam bidang tulis menulis. Sebelumnya para santri mengembangkan seninya dalam bidang tulis-menulis ini. Jurnalis yang berada dibawah naungan lembaga BPP (Badan Pers Pesantren) ini memberikan pendidikan kusus bagi santri, serta mengenalkan cara-cara menulis yang baik kapada santri dengan beribu macam trik dan langkah-langkah ini semua tiada maksud lain selain untuk bekal bagi santri dalam mangamalkan ilmunya dengan mengemasnya dalam sebuah tulisan yang kemudian nantinya dicetak dan dipublikasikan melalui distributor-distributor.

Alhasil, dengan fokus mempelajari ilmu agama, bukanlah berarti gaptek dan ketinggalan zaman. Hal ini yang dilakukan oleh program Auliya Home Learning 2.1. Dengan programnya Auliya Home Learning 2.1, sekolah yang satu ini mampu menghadirkan pendidikan Islami yang tidak ketinggalan zaman.

figurinha

Di website resminya, terdapat keterangan bahwa SD Islam yang satu ini menciptakan suasana belajar aman dan nyaman. Circle Time di pagi hari membangun suasana kekeluargaan antara guru dan siswa. Guru yang kompeten dan dekat dengan siswa hadir sebagai orangtua ke dua. Karakter siswa dididik melalui salah satu Program Utama Character Camp. Mental juara siswa dibangun melalui berbagai Ekskul di antaranya Taekwondo dan Tari. Bagi yang ingin tahu, intip websitenya, yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *