Vaksin ala Santri

Pandemi Covid-19 masih menyelimuti seluruh lini kehidupan masyarakat sampai hari ini dan entah hingga kapan nanti. Pandemi yang melanda negeri gemah ripah loh jinawi ini menjadi momok yang cukup menakutkan. Merusak tatatan kehidupan sosial dan peribadatan banyak manusia.

Berkumpul-kumpul, berjabat tangan, merapatkan barisan, dan kultur kebersamaan lain seakan menjadi kegiatan yang kini dibenci Tuhan. Padahal semua tahu, barokah muncul dari nilai kebersamaan yang kuat. Literatur Islam menyebutkan, “al-Ittihadu asâsun-Najâhi”. Saking pentingnya, orang jawa sampai memiliki prinsip kebersamaan, ”Mangan ora mangan sing penting kumpul!”.

Beberapa waktu terakhir, istilah vaksinasi ramai diperbincangkan pasca ditemukannya vaksin atas pandemi covid-19. Namun, saya yakin, banyak yang masih tidak paham atau mengerti terkait istilah ini. Dalam KBBI, vaksin merupakan bibit penyakit (misal cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi.

Vaksinasi, yaitu penanaman bibit penyakit (msl cacar) yg sudah dilemahkan ke dalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap penyakit. Jadi, mengacu kepada takrif tersebut, tujuannya bukanlah menghilangkan virus, hanya saja, akhirnya manusia menjadi kebal terhadap virus yang ada.

Dilansir dari Kontan.co.id beberapa bulan lalu, sesuai dengan keputusan atas rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Sage yang ada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pemerintah pun mulai menjalankan raod mad program vaksinasi Covid-19.

Tertera bahwa vaksinansi dilakukan beberapa gelombang dan tahapan. Gelombang pertama dimulai sejak bulan Januari-April 2021. Pada gelombang ini mencakup atas; 1. Petugas Kesehatan sejumlah 1,3 juta tenaga kesehatan yang tersebar di 34 provinsi, 2. Petugas Publik sebanyak 17, 4 juta orang, 3. Lansia sebanyak 21,5 juta orang. Gelombang pertama ini saja menembus angka 38,9 juta manusia. Dari fakta ini saja, santri cukup tenang. Intinya belum ada penyebutan pesantren ataupun santri pada gelombang tersebut!

Gelombang kedua dengan periode vaksinasi sejak April 2021-Maret 2022. Sasaran pertama yang tertera pada gelombang ini disebutkan ‘masyarakat rentan’ dengan resiko penularan tinggi yang berjumlah 63,9 juta orang. Kedua, kategori ‘masyarakat lainnya’ dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin sebanyak 77,4 juta orang. 141,3 juta jiwa yang akan divaksin pada gelombang kedua.

Sesuai dengan surat berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Total dari angka yang tercatat, 180,2 juta warga Indonesia yang akan divaksin memakan waktu 1,5 tahun. Tentu ini bukan waktu yang sebentar.

***

Dimana pesantren dikategorikan? Ketika pesantren dimasukkan dalam gelombang kedua, yaitu pada ‘masyarakat lainnya’, tentu bukan satu atau dulan. Namun, tiga bulan kedepan atau bahkan lebih pesantren baru akan mendapat vaksinasi dari pemerintah. Kalau pemulangan santri sesuai jadwal biasanya, maka dapat dipastikan vaksinasi tidak mungkin dilakukan di pesantren sebelum pemulangan ini—mengacu jadwal yang telah beredar diatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *